Sejarah Badminton dari Masa ke Masa

 BADMINTON alias bulutangkis resmi menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan di olimpiade barulah sejak Olimpiade Barcelona 1992. Sebelum itu, badminton hanya jadi cabang yang didemonstrasikan (demonstration sport) pada Olimpiade Munich 1972 dan cabang eksibisi (exhibition sport) pada Olimpiade Seoul 1988. Ketika telah resmi menjadi cabang olahraga di Olimpiade Barcelona 1992, nomor yang dipertandingkan adalah tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, dan ganda putri. Nomor ganda campuran baru menjadi nomor yang dipertandingkan sejak Olimpiade Atlanta 1996.

Yang menarik, dalam semua cerita tentang badminton alias bulutangkis di olimpiade itu selalu ada Indonesia. Atlet badminton Indonesia adalah bagian dari sejarah bulu tangkis di Olimpiade dalam naik turunnya tersebut, dari masa ke masa. Perkecualian terjadi hanya untuk Olimpiade London 2012. Hanya di sini, badminton gagal total membawa pula satu pun medali dari olimpiade. Ini catatan sumbangsih badminton bagi kontingen olimpiade Indonesia dari masa ke masa.

Periode 1972-1988

Upaya memasukkan badminton sebagai salah satu cabang yang dipertandingkan di olimpiade mulai dilakukan pada kurun 1960-an. Lebih dari satu dekade, upaya itu berhasil untuk Olimpiade Munich 1972, itu pun sebatas demonstration sport.

Menggunakan sistem undangan, 25 atlet dari tujuh negara berlaga. Yang menarik, nomor ganda putri gagal dirampungkan karena alasan kehabisan waktu di olimpiade ini. Nomor yang tuntas dipertandingkan adalah tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, dan ganda campuran. Nama Indonesia di Olimpiade Munich 1972 melangit karena kemenangan di dua nomor, yaitu tunggal putra dan ganda putra. Di nomor tunggal putra, Rudy Hartono mengalahkan Svend Pren dari Denmark di laga final. Adapun di nomor ganda putra, pasangan Ade Chandra dan Christian Hadinata menundukkan pasangan Ng Boon Bee dan Punch Gunalan dari Malaysia.

Meski uji coba di Olimpiade Munich 1972 dinilai sukses besar, kenyataan tak selalu mengikuti harapan. Atas nama pertimbangan geopolitik, badminton gagal tampil lagi di olimpiade. Barulah pada pertemuan antara Internasional Olympic Committee (IOC) dan International Badminton Federation (IBF)—nama organisasi sebelum berubah nama menjadi Badminton World Federation (BWF)—di Jerman Timur pada 1985, badminton disetujui menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan di olimpiade. Namun, lagi-lagi ada urusan teknis. Olympic Charter berpendapat butuh waktu setidaknya tujuh tahun sejak kesepakatan tersebut untuk mengenalkan terlebih dahulu cabang olahraga baru di olimpiade. Karenanya, pada Olimpiade Seoul 1988, badminton baru bisa menjadi pertandingan eksibisi. Nama Indonesia tetap mencuat di Olimpiade Seoul 1988 dari badminton. Kali ini, Icuk Sugiarto mewakili nama Indonesia di babak final badminton, sekalipun harus kalah dari Yang Yang dari China.

 

Periode 1992-2016

Resmi menjadi cabang olahraga pada Olimpiade Barcelona 1992, Indonesia langsung mencetak sejarah dengan persembahan lima medali. Rinciannya, dua medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu. Medali emas didapat dari nomor tunggal putri dan tunggal putra, medali perak dari tunggal putra dan ganda putra, serta medali perunggu dari tunggal putra.

Pada Olimpiade Barcelona 1992, seluruh medali yang didapat Indonesia datang dari badminton. Melalui Susi Susanti, Indonesia juga adalah peraih medali emas pertama badminton sebagai cabang olahraga resmi di olimpiade.


Sejak itu hingga Olimpiade Rio de Janeiro 2016, badminton merupakan penyumbang tetap medali bagi kontingen olimpiade Indonesia, kecuali pada Olimpiade London 2012 yang gagal total menyabet satu pun medali. Pada Olimpiade Atlanta 1996, bulutangkis menyumbang empat medali, yaitu satu medali emas dari nomor ganda putra, medali perak dari tunggal putri, serta medali perunggu dari ganda putra dan tunggal putri.

Berikutnya, di Olimpiade Sydney 2000, badminton mempersembahkan tiga medali, yaitu medali emas dari nomor ganda putra serta medali perak dari tunggal putra dan ganda campuran.


Adapun pada Olimpiade Athena 2004, badminton mendapatkan tiga medali, yaitu medali emas dari tunggal putra serta medali perunggu dari tunggal putra dan ganda putra.

Berlanjut, pada Olimpiade Beijing 2008, badminton menyumbang tiga medali, yaitu emas dari nomor ganda putra, medali perak dari ganda campuran, serta medali perunggu dari tunggal putri.


Kegagalan pada Olimpiade 2012 London dibayar pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, dengan perolehan medali emas dari ganda campuran, meski juga hanya itu saja. Medali ini didapat dari nomor ganda campuran.


 

Olimpiade Tokyo 2020

Olimpiade yang digelar di tengah pandemi ini sejak awal sudah unik, bahkan dari nama ajangnya. Meski menggunakan penulisan tahun 2020, tetapi kompetisi olahraga multicabang ini digelar pada 2021. Harapan Indonesia mendapatkan medali dari badminton dipastikan terwujud dengan melajunya pasangan ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu ke babak final pada Senin (2/8/2021) siang waktu setempat. Menang atau kalah, satu medali sudah pasti didapat.

Lolosnya pasangan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu ke babak final badminton Olimpiade 2020 Tokyo juga adalah sejarah baru bagi Indonesia, yaitu kali pertama ada wakil Indonesia hingga ke pertandingan pemuncak dari nomor ini.

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu mempersembahkan emas bagi Indonesia dari nomor ganda putri. Selain melanjutkan tradisi emas, ini juga adalah sejarah bagi nomor ganda putri. Selain pasangan ganda putri, tunggal putra yaitu Anthony Sinisuka Ginting juga mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia di ajang ini. Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke 25 dengan perolehan 1 medali emas dari cabor badminton, 1 medali perak dari cabor angkat besi, dan 3 medali perunggu dari cabor badminton dan juga angkat besi.

 




Sumber:

Kompas.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rendang

SELF LOVE vs INSECURITY

Kue Putu